Irpan's posts with tag: islam
Posted by Irpan on Apr 25, '08 1:56 AM for everyone Terkadang orang berfikir secara tidak masuk akal dan bersikap egois, tetapi, bagaimanapun juga, terimalah mereka apa adanya.
Apabila Engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada maksud-maksud buruk dibalik perbuatan baik yang kau lakukan itu.
Tetapi, tetaplah berbuat baik selalu.
Apabila Engkau sukses, engkau mungkin akan mempunyai musuh dan juga teman-teman yang iri hati atau cemburu.
Tetapi,... teruskanlah kesuksesanmu itu.
Apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain mungkin akan menipumu.
Tetapi,... tetaplah bersikap jujur dan terbuka setiap saat.
Apa yang engkau bangun bertahun-tahun lamanya, dapat dihancurkan orang dalam satu malam saja.
Tetapi,... janganlah berhenti, tetaplah membangun.
Apabila engkau menemukan kebahagiaan dan kedamaian di dalam hati, orang lain mungkin akan iri hati kepadamu.
Tetapi,... tetaplah berbahagia.
Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin besok akan di lupakan orang.
Tetapi,... teruslah berbuat baik.
Berikan yang terbaik dari apa yang kau miliki, dan mungkin itu tidak akan pernah cukup.
Tetapi,... tetap berikanlah yang terbaik.
Apabila engkau mencintai seseorang dengan ikhlas dan tanpa pamrih, mungkin ia tidak akan berbuat seperti apa yang engkau lakukan.
Tetapi tetaplah mencintainya tanpa pamrih, karena Allah maha mengetahui dan maha adil, lagi bijaksana, hakim dari segala hakim.
Sadarilah bahwa semua yang engkau katakan, dan lakukan itu ada diantara engkau dan Tuhanmu. Tidak akan pernah ada antara engkau dan orang lain. Jangan pikir dan pedulikan apa yang engkau lakukan atas orang lain, dimana orang lain akan berfikir atas perbuatan baik yang kau lakukan.
Tetapi percayalah bahwa, mata Tuhan tertuju pada orang-orang yang jujur, dan berbuat baik. Dan Dia dapat melihat ketulusan hatimu.
"Yang dinamakan Muslim itu , adalah apabila muslim lainnya selamat dari keburukan lidah dan tangannya". (Al Hadist)
"Takwalah kamu pada Allah dimana saja kamu berada, dan lakukanlah perbuatan baik, untuk menipiskan perbuatan burukmu, yang akan menghapuskannya, dan pergaulilah manusia dengan pergaulan yang baik. (Al Hadits)
"Barang siapa yang bertaqwa pada Allah, Allah akan memberikannya jalan keluar yang terbaik, dan akan memberikan rezeki padanya dari sumber yang tidak ia sangka-sangka". (Al Qur'an).
Posted by Irpan on Mar 24, '08 8:11 AM for everyone Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan. Anak anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.
Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya. "Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok," gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank. "Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno," kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.
Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples.
Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.
Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur. Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, "Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi? Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, "Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi".
Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan. Semoga kita termasuk orang yang bijak menghadapi kehilangan dan sadar bahwa sukses hanyalah TITIPAN Allah. Benar kata orang bijak, manusia tak memiliki apa-apa kecuali pengalaman hidup. Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?
Posted by Irpan on Jan 14, '08 1:05 AM for everyone Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi'in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :
Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.
Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona'ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah.
Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu : "Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita". Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap "bandel" dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi.
Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!
Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.
Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.
Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.
Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : "Kenapa pundakmu itu ?" Jawab anak muda itu : "Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya". Lalu anak muda itu bertanya: " Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?"
Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: "Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu". Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.
Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.
Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah.
Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya.
Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.
Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.
Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya.
Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. "Kamu berdoa sudah bagus", kata Nabi SAW, "Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan". Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.
Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.
Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya.
Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya.
Semangat memahami agama akan meng "hidup" kan hatinya, hati yang "hidup" adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.
Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.
Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat "hidup" orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.
Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia.
Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu' mungkin membaca doa `sapu jagat' , yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut "Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw" (yang artinya "Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia"), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah.
Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri.
Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu "wa fil aakhirati hasanaw" (yang artinya "dan juga kebahagiaan akhirat"), untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.
Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.
Kata Nabi SAW, "Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga". Lalu para sahabat bertanya: "Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?". Jawab Rasulullah SAW : "Amal soleh saya pun juga tidak cukup". Lalu para sahabat kembali bertanya : "Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?". Nabi SAW kembali menjawab : "Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata".
Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin).
--------- Sumber tulisan: ceramah Ustad Aam Aminudin, Lc. di Sapporo, Jepang, disarikan secara bebas oleh Sdr. Asep Tata Permana
Posted by Irpan on Jan 8, '08 8:10 PM for everyone | Start: | Jan 8, '08 7:30p | | End: | Jan 9, '08 09:00a | | Location: | Masjid Ukhuwah Islamiyah, Kampus UI Depok |
Pembicara: - Dr. Hidayat Nur Wahid, MA (Ketua MPR RI) - Ust. Muzammil Yusuf - Ust. Anwar Nasihin, Lc Imam Qiyamullail: - Ust. Fitrullah (Imam Masjid UI) Kajian Subuh: - Dr. Mushlih Abdul Karim Penyelenggara: Pesantren Quran Masjid UI
Posted by Irpan on Dec 19, '07 3:12 AM for everyone Dan (ingat juga) ketika Tuhanmu memaklumkan” sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” Shalawat dan salam marilah kita sanjungkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw dan keluarga, sahabat-sahabat serta para pengikutnya.Hari-hari ini kita telah memasuki bulan yang mulia yaitu bulan Dzul hijjah. Di mana pada bulan ini Allah Swt memberikan karunia bagi hambaNya untuk memberbanyak amal shaleh.Telah banyak dalil tentang keutamaan sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah ini, baik dari Kitab maupun Sunnah. Diantara amalan yang di anjurkan dalam hari-hari ini adalah:a.Shalat Disunnahkan bersegera mengerjakan shalat fardhu dan memperbanyak shalat-shalat sunnah, karena semua itu merupakan ibadah yang paling utama. b.Shoum(Puasa) Karena dia termasuk perbuatan amal shaleh. Dari Hunaidah bin Kholid dari istrinya dari sebagian istri-istri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, dia berkata: "Adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam berpuasa pada tanggal sembilan Dzul Hijjah, sepuluh Muharram dan tiga hari setiap bulan" (Riwayat Imam Ahmad, Abu Daud dan Nasa’i).c.Takbir, Tahlil dan Tahmid Dari Ibnu Umar radiallahuanhu dia berkata: Rasulullah bersabda: Tidak ada hari-hari yang lebih besar di sisi Allah Ta’ala dan tidak ada amal perbuatan yang lebih dicintai selain pada sepuluh hari itu. Maka perbanyaklah pada hari-hari tersebut Tahlil, Takbir dan Tahmid “ (Riwayat Tabrani dalam Mu’jam Al Kabir) d.Puasa hari Arafah Puasa Arafah sangat dianjurkan bagi mereka yang tidak pergi haji, sebagaimana riwayat dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bahwa beliau berkata tentang puasa Arafah (yang artinya): "Saya berharap kepada Allah agar dihapuskan (dosa) setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya" (Riwayat Muslim). e.Berkurban pada tanggal 10 Dzulhijjah dan hari Tasyrieq Berkurban merupakan ibadah yang di syariatkan dalam agama Islam, sebagai ibadah untuk mendekatkan diri bagi seorang hamba kepada Allah Swt. Firman Allah Swt dalam surat Al Kautsar ayat 1-3: "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak (1) Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah (2) Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus" (QS:Al Kautsar[108]:1-3) Setiap hamba akan menemui ujian pengorbanan sesuai dengan bobot dan kadarkeimanannya. Kita selalu dalam saringan dan ujian Allah Swt. Babak-babak penyaringan itu akan terus dan berjalan melalui peristiwa demi peristiwa. Semua itu pada hakikatnya Allah Swt hendak menguji kualitas keimanan setiap hambaNya. Apakah termasuk kualitas keimanan sungguhan apa tidak, manakah yang lebih dominan antara iman dan rasa eman. Firman Allah Swt: "Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu"(QS: Muhammad[47]:31) Ibadah kurban hukumnya adalah sunnah muakadah (sangat dianjurkan) bagi mereka yang mampu secara materi. Ini seperti dijelaskan oleh Rasulullah Saw, "Barang siapa memiliki kelapangan rizki (keuangan), lalu ia tidak berkurban, maka janganlah ia datang ke tempat shalat kami,"(HR.Ahmad). Maka bagi kaum muslimin yang telah mampu atau kuasa menyembelih hewan kurban, hendaklah melaksanakannya tanpa ragu-ragu sebagai usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.Perintah melaksanakan ibadah kurban mempunyai beberapa keutamaan, diantaranya sebagai berikut: Pertama:Pengampunan dari Allah Swt. Rasulullah Saw telah bersabda kepada anaknya, Fatimah, ketika beliau ingin menyembelih hewan qurban.”Ya Fatimah, berdirilah dan saksikan hewan sembelihanmu itu. Sesungguhnya kamu diampuni pada saat awal tetesan darah itu dari dosa-dosa yang kamu lakukan. Dan bacalah : Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah Swt, Rabb alam semesta (HR. Abu Daud dan At-Tirmizi) Kedua: Mengharap keridhaan dari Allah Swt. Allah Swt telah berfirman: "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya"( QS:Al Hajj[22]:37) Ketiga: Ibadah kurban merupakan amalan yang paling dicintai Allah pada hari Raya Idul Adha. “Tidak ada suatu amalan yang paling dicintai Allah dari bani Adam ketika hari raya Idul Adha selain menyembelih hewan kurban”. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan hakim) Keempat: Hewan kurban sebagai saksi di hari kiamat. “Sesungguhnya hewan kurban itu akan datang pada hari kiamat (sebagai saksi) dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Dan sesungguhnya darah hewan kurban telah terletak disuatu tempat disisi Allah sebelum mengalir ditanah. Karena itu, bahagiakan dirimu dengannya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan hakim) Kelima: Mendapatkan pahala yang besar. Pahala yang amat besar, yakni diumpamakan seperti banyaknya bulu dari binatang yang disembelih, ini merupakan penggambaran saja tentang betapa besarnya pahala itu, hal ini dinyatakan oleh Rasulullah SAW. "Pada tiap-tiap lembar bulunya itu kita memperoleh satu kebaikan". (HR. Ahmad dan Ibnu Majah) Idul Adha bukanlah hari raya biasa. Untuk merayakannya tidak sekedar bertakbir, tahlil, tahmid serta bertasbih. Yang dilanjutkan dengan shalat ied dan menyembelih hewan kurban. Tapi lebih dari itu, idul adha melalui syariat kurban mengingatkan kita untuk merenung, berpijak , dari keagunanan sejarah yang melatar belakanginya tentang pengorbanan Nabiyallah Ibrahim dan putra tercinta Ismail, anak yang sangat disayangi dan menjadi buah hati selama ini ternyata harus di sembelih sebagai perintah Allah Swt. Oleh: Ustadz Andre Gunawan, Lchttp://www.pesantrenvirtual.com 
Posted by Irpan on Nov 28, '07 9:05 PM for everyone Mencoba untuk mengingat apa yg pernah dikisahkan beberapa ustadz mengenai akhlak Rasulullah S.A.W, mudah-mudahan dapat menjadi contoh dan pelajaran berharga bagi kita...
Suatu hari amirul mukminin Abu Bakar r.a. yang telah menjabat sebagai khalifah pertama bertanya kepada putrinya Aisyah r.a. yang juga merupakan istri dari Rasulullah S.A.W. Abu Bakar r.a: Wahai anakku, aku telah menjadi khalifah menggantikan Rasulullah S.A.W, menurutmu apa yang telah Rasulullah S.A.W perbuat semasa hidupnya yang belum pernah aku perbuat? Aisyah r.a. kemudian berpikir sejenak kemudian menjawab pertanyaan ayahnya Aisyah r.a: Wahai ayah, sesungguhnya apa yang telah Rasulullah S.A.W perbuat telah engkau perbuat juga, tapi ada suatu hal yang belum engkau perbuat, yaitu, setiap hari biasanya Rasulullah S.A.W menghampiri pengemis tua yang berada di dekat pasar tersebut kemudian memberinya sepotong roti. Mendengar jawaban tersebut kemudian Abu Bakar r.a bergegas untuk menemui pengemis yang dimaksudkan oleh putrinya tersebut. Ketika menemukan pengemis tersebut kemudian Abu Bakar r.a mendekatinya, seketika itu juga alangkah kagetnya Abu Bakar r.a karena pengemis tersebut ternyata buta dengan keadaan yang memprihatinkan dan berasal dari kalangan bangsa yahudi. Lebih dari itu ada yang membuat hati Abu Bakar r.a penuh amarah karena ketika ditemukan pengemis tersebut sedang memfitnah dan memaki-maki Rasulullah S.A.W ketika sedang meminta kepada setiap orang yang melintasinya. Namun, Abu Bakar r.a menahan amarahnya kemudian berjalan menghampiri sang pengemis untuk memberinya roti seperti apa yang dilakukan oleh Rasulullah S.A.W. Ketika tepat dihadapan pengemis tua tersebut Abu Bakar r.a langsung memberikan roti tersebut dan meletakkannya di tangan pengemis tua tersebut. Pengemis tua tersebut kemudian merasa heran kemudian bertanya kepada orang yang memberinya roti kepadanya. Pengemis: Siapakan anda? Abu Bakar r.a merasa kaget dan heran dengan pengemis tersebut kemudian menjawab pertanyaan pengemis tersebut. Abu Bakar r.a: Saya adalah orang yang setiap hari memberimu roti ini Pengemis: (dengan yakin menjawab) bukan, anda bukanlah orang yang biasa memberiku makanan Abu Bakar r.a: (masih dengan perasaan heran) Wahai pak tua, bagaimana engkau tahu bahwa aku bukanlah orang yang biasa memberimu roti? Pengemis: Orang yang biasa memberiku roti memiliki tangan yang halus, dan roti yang diberikannya adalah roti yang terbaik yang ada di pasar ini. Pengemis: Dia tau gigiku sudah hampir tanggal semua, karena itu, dia melunakkan potongan roti tersebut kemudian dengan penuh kasih sayang menyuapkannya dengan sabar kemulutku, sepotong demi sepotong sampai roti tersebut habis. Secara tidak sadar Abu Bakar r.a menitikkan air matanya mendengar penuturan pengemis tua tersebut. Pengemis: (melanjutkan perkataanya) katakan kepadaku, dimanakah orang yang baik hati tersebut?, aku ingin sekali menjumpainya karena sudah lama orang tersebut tidak datang menemuiku. Abu Bakar r.a semakin yakin bahwa setiap kali Rasulullah S.A.W menemui pengemis tersebut dan memberinya roti tidak pernah sekalipun memberitahukan namanya. Abu Bakar r.a: Wahai pengemis tua, ketahuilah bahwa seseorang yang selalu memberimu makanan telah meninggal dunia beberapa bulan yang lalu. Abu Bakar r.a: Beliau adalah Muhammad Rasulullah S.A.W, orang yang selalu engkau fitnah dan engkau caci maki Mendengar jawaban dari Abu Bakar, Pengemis tersebut secara spontan menangis tersedu-sedu, tidak disangka ternyata orang yang selalu memperhatikannya, memberinya kasih sayang dan makanan adalah orang yang selama ini paling ia benci, yang selalu ia fitnah dan caci maki, yaitu Muhammad S.A.W. Kemudian diriwayatkan bahwa akhirnya pengemis tersebut mengucapkan syahadat langsung didepan Abu Bakar r.a.
 
Posted by Irpan on Oct 23, '07 5:48 AM for everyone Khalifah Harun Ar Rasyid rah.a mempunyai seorang putera sekitar enam belas tahun. Ia sering bergaul dengan para ahli zuhud dan tokoh-tokoh agama pada masa itu. Ia sering mengunjungi tanah kuburan, duduk di tepi kubur dan berkata, "Ada masanya ketika kamu tinggal di dunia ini dan kamu sebagai tuannya, tetapi ternyata dunia tidak melindungimu dan nasibmu berakhir di kubur. Seandainya aku tahu apa yang engkau alami sekarang ini, tentu aku ingin mengetahui apa yang kamu katakan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan kepadamu."
Ia sering membaca syair :
Pemakaman menakutkanku setiap hari dan ratapan wanita-wanita yang berduka cita membuatku sedih.
Pada suatu hari, anak itu datang ke istana ayahnya Harun Ar Rasyid, yang sedang duduk bersama ajudan pribadinya, para pejabat dan tamu-tamu terhormat lainnya. Sedangkan puteranya itu berpakaian sangat sederhana, dengan sorban di kepalanya. Ketika orang-orang istana itu melihatnya demikian, mereka berkata, "Keadaan anak ini menghina Amirul Mukminin di hadapan para bangsawan, jika ia dapat memperingatkannya, mungkin anak itu akan menghentikan kebiasaannya."
Khalifah mendengar ucapan itu, maka ia berkata kepada anaknya, "Anakku sayang, engkau telah mempermalukanku di hadapan para bangsawan."
Anak itu tidak berkata sepatah katapun atas ucapan ayahnya. Bahkan ia memanggil seekor burung yang bertengger di dekat situ, "Wahai burung, aku memohon kepadamu, demi Dzat yang menciptakanmu, datanglah dan duduklah di atas tanganku."
Burung itu terbang menghampirinya dan hinggap di atas tangannya. Kemudian anak itu menyuruhnya terbang lagi, dan burung itu pun terbang lagi ke tempat semula. Kemudian ia berkata kepada ayahnya, "Ayahku sayang, sesungguhnya kecintaanmu kepada dunia inilah yang memalukan diriku. Aku telah memutuskan untuk berpisah denganmu." Setelah berkata demikian, ia pergi hanya berbekal Al Quran saja.
Ketika ia memohon pamit kepada ibunya, ibunya memberi sebuah cincin yang sangat indah dan mahal, (agar ia dapat menjualnya jika ia memerlukan uang). Anak laki-laki itu pergi ke Basrah, dan bekerja bersama para buruh. Namun ia hanya bekerja pada hari Sabtu saja. Dan ia gunakan upahnya sehari untuk satu minggu, dengan menggunakan (satu danaq) seperenam dirham setiap hari.
Kisah selanjutnya diceritakan oleh Abu Amir Bashri rah.a., ia berkata, "Pada suatu ketika, sebelah dinding rumahku roboh dan aku membutuhkan seorang tukang batu untuk memperbaikinya. Ada seseorang yang memberitahuku bahwa ada seorang anak laki-laki yang dapat mengerjakan pekerjaan tukang batu. Maka akupun mencarinya. Di luar kota, aku melihat seorang pemuda tampan sedang duduk di tanah sambil membaca al Quran dengan sebuah tas di sisinya. Aku menanyainya, apakah ia mau bekerja sebagai buruh? Ia menjawab, "Tentu, kita telah diciptakan untuk bekerja. Pekerjaan apakah yang tuan inginkan untukku?"
Kukatakan bahwa aku membutuhkan seorang tukang batu untuk mengerjakan bangunan. Ia berkata, "Aku mau asalkan upahku satu dirham dan satu danaq sehari. Dan aku akan berhenti kerja dan pergi ke masjid bila tiba waktu shalat, kemudian kulanjutkan pekerjaan tersebut setelah shalat." Aku menyetujuinya.
Akhirnya ia ikut bersamaku dan mulai mengerjakan dinding itu. Pada sore harinya, aku kembali, dan aku sangat terkejut melihat bahwa ia telah melakukan pekerjaan seperti sepuluh orang tukang batu yang mengerjakannya. Akupun memberinya dua dirham. Tetapi ia menolak upah yang melebihi satu dirham dan satu danaq. Kemudian ia pergi hanya dengan upah yang telah disetujui.
Keesokan paginya, aku pergi lagi mencarinya, tetapi aku diberi tahu bahwa ia hanya bekerja pada hari Sabtu saja. Dan tiada seorangpun yang dapat menemukannya pada hari-hari lainnya. Karena aku sangat puas dengan pekerjaannya, maka kuputuskan untuk menunda pembangunan dindingku pada Sabtu depan. Pada hari Sabtu itu, aku mencarinya lagi dan kudapati ia di tempat yang sama sedang membaca al Quran sebagaimana biasa. Aku mengucapkan salam kepadanya, "Assalamu Alaikum."
"Wa Alaikumus Salam." Balasnya.
Ia bersedia bekerja lagi untukku dengan syarat yang sama. Ia pun ikut bersamaku dan mulai mengerjakan dinding itu lagi.
Disebabkan rasa heranku, bagaimana ia dapat mengerjakan pekerjaan sepuluh orang pekerja seorang diri seperti pada hari Sabtu yang lalu, maka akupun mengintipnya bekerja tanpa sepengetahuannya. Aku melihatnya dengan sangat takjub, bahwa ketika ia meletakkan adukan semen di dinding, maka batu-batu itu dengan sendirinya menyatu. Akhirnya aku sadar dan meyakini bahwa anak itu adalah kekasih Allah Swt. Sebagaimana hamba-hamba-Nya yang khusus saja yang mendapatkan pertolongan ghaib seperti itu dari Allah Swt.
Sore harinya, aku ingin memberinya tiga dirham, tetapi ia hanya mengambil satu dirham dan satu danaq kemudian pergi, sambil berkata, "Aku tidak membutuhkan lebih dari ini." Aku menunggu minggu berikutnya, lalu aku mencarinya pada Sabtu berikutnya, tetapi aku tidak berhasil menemukannya.
Aku bertanya kepada orang-orang. Ada seorang laki-laki memberitahuku bahwa anak itu sedang mengalami sakit selama tiga hari dan berbaring di tempat yang sepi. Kemudian aku membayar seseorang untuk mengantarkanku ke tempat itu. Setibanya di sana, ia sedang berbaring di atas tanah tak sadarkan diri. Kepalanya berbantalkan sepotong batu. Aku menyalaminya, tetapi ia tidak membalasnya. Aku berkata, "Assalamu Alaikum." lebih keras lagi. Ia membuka matanya sedikit dan mengenaliku. Aku baringkan kepalanya di pangkuanku, tetapi ia kembali meletakkan kepalanya di atas batu, dan membaca beberapa syair. Dua diantaranya masih kuingat, berbunyi demikian :
"Wahai kawanku, janganlah engkau terpedaya dengan kemewahan dunia. Karena hidupku akan berlalu. Kemewahan hanyalah untuk sekejap mata. Dan bila engkau mengusung jenazah ke pemakaman, ingatlah suatu hari engkaupun akan diusung ke pemakaman."
Kemudian anak itu berkata kepadaku, "Abu Amir! Jika ruhku telah melayang, mandikanlah aku dan kafanilah aku dengan pakaian yang kupakai sekarang."
Sahutku, "Sayangku, aku tidak keberatan membelikan kain baru untuk kafanmu."
Ia berkata, "Orang yang masih hidup lebih menginginkan pakaian yang baru daripada yang mati."
Anak itu menambahkan, "Kafan (lama ataupun baru) akan segera membusuk. Yang tinggal dengan seseorang setelah kematian adalah amal perbuatannya. Berikan sorban dan kendi airku kepada penggali kuburku dan jika engkau telah memakamkanku, sampaikan al Quran dan cincin ini kepada khalifah Harun Ar Rasyid. Tolonglah agar langsung ke tangannya dan katakan kepadanya, "Benda-benda itu dipercayakan kepadaku oleh seorang lelaki asing yang memintaku untuk menyampaikannya kepada engkau dengan pesan, "Wahai ayah, perhatikanlah, jangan sampai engkau meninggal dalam kelalaian dan terpedaya oleh dunia."
Dengan kata-kata itu di bibirnya, anak itu meninggal dunia. Saat itu barulah kusadari bahwa anak itu adalah seorang pangeran.
Setelah wafat, akupun memandikannya, mengafaninya dan membaringkannya dalam kubur sesuai dengan pesannya. Lalu kuberikan sorban dan lothanya kepada penggali kuburnya. Kemudia aku pergi ke Baghdad untuk menyampaikan cincin dan al Quran kepada khalifah.
Sungguh beruntung, setibanya aku di sana, baru saja iringan khalifah keluar istana. Aku berdiri di sebuah tempat yang agak tinggi sambil memperhatikan pawai itu. Tidak lama kemudian keluarlah satu pasukan terdiri dari seribu orang berkuda, diikuti oleh sepuluh pasukan lagi yang masing-masing terdiri dari seribu orang berkuda.
Diantara pasukan yang terakhir, terlihatlah Amirul Mukminin, maka akupun langsung memanggilnya dengan berteriak, "Amirul Mukminin, aku mohon kepadamu, atas nama hubungan kekeluargaan dengan Rasulullah Saw., berhentilah sebentar."
Amirul Mukminin berhenti dan melihat sekeliling, lalu aku maju kedepannya dan menyerahkan kedua benda amanat dari almarhum putera pangeran itu, lalu aku berkata, "Benda-benda ini telah dipercayakan kepadaku oleh seorang pemuda asing yang kini telah meninggal dunia, ia berwasiat agar benda-benda ini disampaikan langsung ke tangan tuan."
Khalifah memandangi cincin dan al Quran itu sambil menundukkan kepalanya dengan sedih. Aku melihat air matanya mengalir, kemudian ia menyuruh pengurus istana untuk mengantarku ke istananya. Aku tinggal bersama pengurus istana itu.
Setelah khalifah kembali pada sore harinya. ia menyuruh agar tirai-tirai istana diturunkan, dan menyuruh pengurus istana agar agar membawaku ke hadapannya, kemudian ia berkata, "Lelaki itu hanya akan menimbulkan kesedihan bagiku."
Pengurus istana menemuiku dan berkata, "Amirul Mukminin memanggilmu, namun ingatlah, jiwanya sedang bergoncang. Jika engkau ingin mengatakan sesuatu dalam sepuluh kata, cobalah mengatakannya dengan lima kata saja."
Kemudian ia mengantarkanku ke kamar pribadi khalifah. Kulihat khalifah sedang duduk seorang diri, lalu ia menyuruhku untuk duduk di dekatnya. Ia bertanya kepadaku, "Apakah kamu mengenal anakku?"
Jawabku, "Ya."
Ia bertanya, "Apa saja yang ia lakukan untuk menafkahi hidupnya?"
Kukatakan bahwa ia bekerja sebagai tukang batu. Amirul Mukminin bertanya, "Apakah engkau juga pernah mempekerjakannya sebagai tukang batu?"
Aku berkata, "Ya, pernah kulakukan."
Amirul Mukminin berkata, "Apakah tidak terpikir olehmu, bahwa ia berhubungan keluarga dengan Rasulullah Saw.?" (Harun Ar Rasyid adalah keturunan Abbas r.a. paman Rasulullah Saw.)
Jawabku, "Wahai Amirul Mukminin! Pertama aku memohon ampun kepada Allah Swt. dan aku meminta maaf kepadamu, karena aku mengetahuinya setelah ia meninggal dunia."
Khalifah berkata, "Apakah engkau memandikannya dengan tanganmu sendiri?"
Aku berkata, "Ya."
Ia berkata, "Biarlah kusentuh tanganmu." Kemudian ia memegang tanganku ke dadanya dan mengusap-usap dadanya dengan tanganku, lalu ia membaca beberapa bait syair yang bunyinya :
"Wahai engkau yang menjauhkan dariku. Hatiku larut dalam kesedihan atasmu. Mataku mengalirkan air mata penderitaan. Wahai engkau yang jauh pemakamannya. Terlalu jauh. Kesedihanmu lebih dekat di hatiku. Benar, kematian itu membingungkan kesenangan yang tertinggi di dunia. Wahai anakku yang menjauh dariku. Engkau bagai bulan yang tergantung di atas dahan perak. Bulan telah menetap di kubur, sedang dahan perak menjadi debu."
Kemudian Harun Ar Rasyid memutuskan untuk pergi ke Basrah mengunjungi makam puteranya dan aku menemaninya. Ketika berdiri di sisi makam puteranya, Harun Ar Rasyid membaca syair berikut ini :
"Wahai pengembara ke alam yang tidak diketahui. Tidak akan engkau kembali ke rumah. Kematian telah merengutmu di awal masa remajamu. Wahai penyejuk mataku, engkaulah pelipur laraku. Kediaman hatiku, di kesunyian. Engkau telah merasakan racun kematian. Yang seharusnya ayahmulah yang minum di usia tuanya. Sungguh setiap orang akan merasakan kematian. Apakah ia seorang pengembara atau penduduk kota. Segala puji bagi Allah Yang Esa. Yang tidak mempunyai sekutu. Karena ini adalah bukti dari keputusannya."
Pada malam berikutnya setelah menunaikan kebiasaan ibadah harianku, dalam tidurku aku bermimpi melihat sebuah istana berkubah penuh nur. Di atasnya ada awan dari nur yang menaunginya. Dari awan nur itu keluarlah suara almarhum pemuda itu yang berkata, "Abu Amir, Semoga Allah Swt. menganugerahimu pahala terbaik."
Aku bertanya kepadanya, "Sahabatku, apa yang telah engkau alami di alam sana?"
Ia berkata, "Aku telah diakui di hadapan Tuhanku Yang Maha Pemurah dan Yang merasa senang denganku. Ia telah memberiku karunia yang mata tidak pernah melihatnya, telinga tidak pernah mendengarnya dan akal tidak dapat memikirkannya."
Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata, "Di dalam Taurat tertulis bahwa Allah Swt. menyiapkan suatu karunia bagi mereka yang meninggalkan tempat tidurnya untuk menangis kepada Tuhan mereka (dalam shalat Tahajjud) yang tidak pernah mata melihatnya, tidak pernah telinga mendengarnya, tidak pernah terpikirkan oleh akal seseorang dan tidak ada seorangpun atau malaikat yang mengetahuinya, dan tidak pernah diketahui oleh siapapun. Allah Swt. berfirman di dalam al Quran :
"Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (As Sajdah ayat 17)
Kemudian arwah pemuda itu berkata kepadaku (dalam mimpi), "Allah Swt. telah berjanji kepadaku, bersumpah demi keagungan-Nya. bahwa Ia akan menganugerahi kehormatan dan karunia semacam itu kepada semua yang keluar dari dunia seperti aku, tanpa ternodai olehnya"
Penulis Raudh berkata bahwa kisah ini juga telah sampai kepadanya melalui periwayat yang lain. Ditambahkan dalam riwayat ini bahwa seseorang bertanya kepada Harun Ar Rasyid mengenai puteranya. Ia berkata, "Puteraku dilahirkan sebelum aku diangkat sebagai khalifah. Ia diasuh dan diajarkan adab dan sopan santun dengan sangat baik. Ia telah mempelajari al Quran dan ilmu-ilmu agama lainnya. Tetapi ketika aku diangkat menjadi khalifah, ia meninggalkanku dan pergi. Kebesaran duniawiku tidak memberikan kesenangan dalam hidupnya. Dan ia tidak ingin memanfaatkannya sedikitpun. Ketika ia akan pergi, aku meminta ibunya agar memberinya sebuah cincin mutiara yang indah. Namun ia menolak memakainya dan mengirimnya kembali sebelum ia wafat. Anak itu sangat patuh kepada ibunya." (Raudh)
Harun Ar Rasyid rah.a, -yang puteranya tidak menyukai dunia- terkenal sebagai khalifah yang sangat shaleh dan budiman. Biasanya, jika seseorang memilki kekuasaan dan harta kekayaan, suka tergelincir dalam perbuatan-perbuatan buruk, tetapi sejarah membuktikan bahwa ia banyak terjun dalam hal agama. Selama masa kekhalifahannya, ia shalat nafil seratus rakaat setiap hari hingga wafatnya. Ia suka bersedekah dari saku pribadinya seribu dirham setiap hari. Ia juga memimpin pasukan jihad dan beribadah haji dua tahun sekali.
Apabila beribadah haji, ia membawa seratus alim ulama dan putera mereka bersamanya. Dan pada tahun-tahun ia berjihad, ia akan mengirim tiga ratus orang rakyatnya untuk pergi haji. Ia menanggung biaya-biaya perjalanan, makanan dan pakaian mereka. Ia memberikan pelayanan dan pakaian yang terbaik untuk mereka. Ia pun biasa memberi hadiah kepada siapapun yang meminta pertolongannya, dan menolong siapapun atas kehendaknya tanpa diminta. Ia sangat mencintai alim ulama, yang mendapat penghormatan tersendiri di istananya.
Suatu ketika, muhaddits terkenal Abu Muawiyah ad Dharir (bermakna yang buta) makan bersama Harun Ar Rasyid. Setelah makan, ketika ulama buta itu berdiri untuk mencuci tangannya, khalifah langsung mengucurkan air ke atas tangannya., dan berkata bahwa ia melakukan itu karena penghormatannya kepada ilmunya.
Abu Muawiyah ad Dharir rah.a. berkata, "Suatu ketika, pada saat aku menceritakan kepadanya tentang hadits Rasulullah Saw. tentang perdebatan antara Adam a.s. dan Musa a.s. ada seseorang laki-laki yang duduk di dekatnya berkata, "Di mana mereka telah bertemu?"
Mendengar hal ini, Harun Ar Rasyid langsung berseru marah, "Mana pedangku? Biar kupenggal leher orang zindiq ini. Ia berani membantah hadits Rasulullah Saw.?"
Dan Harun Ar Rasyid sering menangis keras bila ada nasehat yang ditujukan kepadanya. (Sejarah Baghdad- Al Khatib).
Sumber : Fadhilah Sedekah - Maulana Muhammad Zakariyya Rah.a.
Posted by Irpan on Aug 28, '07 11:28 PM for everyone 
Marhaban yaa Ramadhan, tamu agung tersebut sebentar lagi akan datang menghampiri hamba-Nya, ya Allah, sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan, bulan yang penuh rahmat serta ampunan. Marilah kita sambut bersama bulan Ramadhan dengan rasa suka cita dan tentu saja dengan pesiapan yang matang baik aqliyah, ruhiyah dan jasadiyah. Secara pribadi, saya mohon maaf lahir dan batin kepada siapa saja yang mungkin secara sengaja maupun tidak telah terdzalimi. Mudah-mudahan Allah SWT berkenan memasukkan kita kedalam bulan Ramadhan dengan hati yang bersih dan suci. Terakhir, mudah-mudahan kita memperoleh derajat taqwa diakhir bulan dan dapat berjumpa dengan Ramadhan berikutnya. 
Posted by Irpan on Aug 7, '07 8:36 AM for everyone Masih dalam suasana pemilihan pilkada daerah, suatu saat saya mendapatkan sebuah tausiyah atau nasihat dari seseorang ustadz tentang bagaimana memilih pemimpin yang baik. Ustadz tersebut memberikan beberapa kriteria yang diambil dari do'a yang dipanjatkan oleh Rasulullah SAW. Berikut ini adalah beberapa kriteria yang dipaparkan oleh sang ustadz yang masih saya ingat. Kriteria seorang pemimpin yang pertama adalah keilmuan yang dimiliki. Seorang pemimpin sudah seharusnya memiliki kapasitas sebagai pemimpin karena ilmu yang dimilikinya, karena hanya dengan ilmu seseorang dapat menjalankan kepemimpinannya dengan baik. Menurut suatu Hadist Rasulullah 'barang siapa ingin mendapatkan dunia hendaklah ia mendapatkannya dengan ilmu, barang siapa yang ingin mendapatkan akhirat hendaklah ia mendapatkannya dengan ilmu, dan barang siapa yang ingin mendapatkan keduanya maka hendaklah ia mendapatkannya dengan ilmu' . Dan juga, Allah SWT sendiri memuliakan orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan lebih tinggi daripada orang-orang yang ahli ibadah. Yang kedua adalah ketaqwaannya, pemimpin yang memiliki ketaqwaan yang baik pastilah memiliki kedekatan yang baik pula dengan tuhannya, dengan kedekatannya itu, diharapkan Allah SWT menjaga dan memberkahi kepemimpinannya. Orang yang taqwa adalah orang yang selalu hati-hati dalam setiap perbuatan yang dilakukannya, karena itu pemimpin yang bertaqwa akan selalu menjaga perbuatannya agar selalu sesuai dengan kerangka ridho Ilahi. Yang ketiga adalah akhlaqnya, dengan akhlaq yang mulia, Rasulullah mampu menyebarkan dien ini hingga keseluruh penjuru dunia, dengan akhlaq pula manusia mampu merubah hati seseorang dan dengan akhlaq yang mulia menjadi perantara masuknya hidayah bagi seseorang. Karena itu, seorang pemimpin yang memiliki akhlaq yang baik tidak hanya sangat dekat dengan orang-orang yang dipimpinnya tetapi juga dicintai oleh orang-orang yang dipimpinnya tersebut. Yang terakhir adalah kesehatan jasmani, menerima suatu amanah sebagai pemimpin merupakan suatu tugas yang amat berat yang harus ditunjang dengan fisik yang kuat. Dengan kondisi fisik yang baik, Insya Allah seorang pemimpin akan mampu menjalankan aktivitasnya sebagai pemimpin sehari-hari. Hanya beberapa hal tersebut lah yang masih bisa saya ingat, mudah-mudahan dapat bermanfaat..., dan bagi yang memiliki hak pilih pada pilkada (atau pemilihan pemimpin yang lain), pergunakan hak tersebut dengan baik dan dengan rasa tanggung jawab, karena sesungguhnya pilihan kita juga akan dipertanggungjawabkan nanti di akhirat kelak.
Posted by Irpan on Jul 31, '07 7:32 AM for everyone Akhirnya ketemu juga suatu kisah yang sarat hikmah dari Imam Al-Ghazali yang sedang berkumpul dengan murid-muridnya. Dulu sempat denger kisah ini, tetapi sudah agak yang lupa, dan baru sekarang bisa dapet lagi kisahnya yang cukup lengkap. Mudah-mudahan melalui kisah ini dapat diambil hikmah dan pelajaran yang berharga bagi diri kita.
Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau bertanya (Teka Teki )
Imam Ghazali = Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini? Murid 1 = " Orang tua " Murid 2 = " Guru " Murid 3 = " Teman " Murid 4 = " Kaum kerabat " Imam Ghazali = Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati ( Surah Ali-Imran :185).
Imam Ghazali = Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini? Murid 1 = " Negeri Cina " Murid 2 = " Bulan " Murid 3 = " Matahari " Murid 4 = " Bintang-bintang " Iman Ghazali = Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.
Iman Ghazali = Apa yang paling besar didunia ini? Murid 1 = " Gunung " Murid 2 = " Matahari " Murid 3 = " Bumi " Imam Ghazali = Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A'raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.
IMAM GHAZALI = Apa yang paling berat didunia ini? Murid 1 = " Baja " Murid 2 = " Besi " Murid 3 = " Gajah " Imam Ghazali = Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah.
Imam Ghazali = Apa yang paling ringan di dunia ini? Murid 1 = " Kapas" Murid 2 = " Angin " Murid 3 = " Debu " Murid 4 = " Daun-daun " Imam Ghazali = Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SHOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan sholat.
Imam Ghazali = Apa yang paling tajam sekali di dunia ini? Murid - Murid dengan serentak menjawab = " Pedang " Imam Ghazali = Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.
Posted by Irpan on Jul 4, '07 6:27 AM for everyone Nama-nama lain Al-Fatihah : Fatihatul-Kitab, Ummul Kitab, Ummul-Qur’an, as-Sab’ul-Matsani, al-Qur’anul-`Azhim,asy-Syifa, dan Assaul-Qur’an. Imam Ahmad bin Hambal r.a. meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., dia berkata, “Rasulullah saw. Menemui Ubai bin Ka’ab, namun dia sedang shalat. Rasul berkata, `Hai Ubai.’ Maka Ubai melirik, namun tidak menyahut. Nabi berkata, `Hai Ubai!’ Lalu Ubai mempercepat shalatnya, kemudian beranjak menemui Rasulullah saw. Sambil berkata, `Asalamu’alaika, ya Rasulullah.’ Rasul menjawab, `Wa’alaikassalam. Hai Ubai, mengapa kamu tidak menjawab ketika kupanggil?’ Ubai menjawab, `Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sedang shalat.’ Nabi bersabda, `Apakah kamu tidak menemukan dalam ayat yang diwahyukan Allah Ta’ala kepadaku yang menyatakan, `Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu.’ (al-Anfal:24) Ubai menjawab, `Ya Rasulullah, saya menemukan dan saya tidak akan mengulangi hal itu.’ Rasul bersabda, `Sukakah kamu bila kuajari sebuah surat yang tidak diturunkan surat lain yang serupa dengannya di dalam Taurat, Injil, Zabur dan al-Furqan?’ Ubai menjawab, `Saya suka, wahai Rasulullah.’ Rasulullah saw. Bersabda, `Sesungguhnya aku tidak mau keluar dari pintu ini sebelum aku mengajarkannya.’ Ubai berkata, `Kemudian Rasulullah memegang tanganku sambil bercerita kepadaku. Saya memperlambat jalan karena khawatir beliau akan sampai di pintu sebelum menuntaskan pembicaraannya. Ketika kami sudah mendekati pintu, aku berkata, `Ya Rasulullah, surat apakah yang janjikan itu?’ Beliau bertanya, `Apa yang kamu baca dalam shalat?’ Ubai berkata, `Maka aku membacakan Ummul-Qur’an kepada beliau.’ Beliau bersabda, `Demi yang jiwaku dalam genggaman-Nya, Allah tidak menurunkan surat yang setara dengan itu baik dalam Taurat,Injil,Zabur,maupun al-Furqan. Ia merupakan tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang.’ “Muslim meriwayatkan dalam sahihnya dan Nasa’I meriwayatkan dalam sunannya dengan sanad dari Ibnu, dia berkata, “Suatu ketika Rasulullah saw. (sedang duduk) dan di sisinya ada Jibril. Tiba-tiba jibril mendengar suara dari atas. Maka dia mengarahkan pandangannya ke langit, lalu berkata, `Inilah pintu langit dibukakan, padahal sebelumnya tidak pernah.’ Ibnu Abbas berkata, “Gembirakanlah (umatmu) dengan dua cahaya. Sungguh keduanya diberikan lepadamu dan tidak pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelummu, yaitu Fatihatul-Kitab dan beberapa ayat terakhir surat al-Baqarah. Tidakkah Anda membaca satu hurufpun darinya melainkan Anda akan diberi (pahalanya).’”
Posted by Irpan on Jun 13, '07 3:31 AM for everyone Mungkin kita pernah menginginkan sesuatu kebaikan terhadap diri kita sendiri, namun sering kali kita tidak mendapatkannya, karena bisa jadi kebaikan yang kita inginkan tersebut belum tentu membawa kabaikan bagi diri kita. Begitu pula sebaliknya suatu kejelekan belum tentu membawa kejelekan pula bagi diri kita. Sebuah kisah dibawah ini menggambarkan suatu keadaan dimana keadaan yang kurang menguntungkan menjadi suatu kebaikan bagi seseorang. Suatu ketika terdapat seorang nenek yang setiap harinya bekerja sebagai penjual tempe. Sang nenek menyiapkan tempe yang akan dijualnya pada malam hari dan kemudian akan dijual ke pasar keesokan harinya. Suatu saat, ketika pagi hari si nenek memeriksa tempe yang dibuatnya, alangkah terkejutnya si nenek karena tempe tersebut masih belum jadi padahal tempe tersebut akan dijual ke pasar. Dengan sabar si nenek berdo’a kepada Allah agar segera menjadikan tempe tersebut. Setelah berdo’a, si nenek membawa tempe-tempe yg belum jadi tersebut ke pasar dengan harapan tempe tersebut telah jadi ketika sampai di pasar. Setelah sampai di pasar si nenek kembali memeriksa tempe tersebut, kembali hatinya kecewa karena tempe-tempe tersebut masih belum jadi juga. Dengan hati yang sedih nenek tersebut kembali berdo’a kepada Allah agar tempe tersebut jadi sehingga dapat dijual hari itu juga. Hari semakin siang, pedagang yang lain mulai membereskan barang dagangannya. Tapi si nenek masih belum bisa menjual tempe miliknya. si nenek yang masih memiliki harapan kemudian kembali memeriksa tempe-tempe nya. Namun si nenek semakin sedih dan putus asa karena tempe tersebut masih belum jadi. Akhirnya untuk terakhir kalinya si nenek tersebut berdo’a “Ya Allah, jadikanlah tempe-tempe ini, apabila hamba tidak dapat menjual tempe-tempe ini maka hamba dan keluarga hamba tidak dapat makan pada esok hari”. Setelah berdo’a si nenek kembali menunggui dagangannya, tidak lama setelah itu datang seorang ibu menghampirinya. si ibu bertanya kepada si nenek “apakah nenek menjual tempe yang belum jadi?”, dengan perasaan heran si nenek bertanya “kenapa ibu hendak membeli tempe yang belum jadi”. Si ibu menjawab “tempe yang belum jadi tersebut akan dikirimkan ke anaknya yang berada diluar kota, dengan harapan ketika sampai tempe tersebut telah jadi”. Mendengar jawaban si ibu, kemudian si nenek berdo’a kepada Allah “Ya Allah, hamba menarik kembali semua permintaan hamba sebelumnya, biarkan tempe ini belum jadi”. Kemudian si nenek memeriksa tempe tersebut dan ternyata memang masih belum jadi. Alangkah bahagianya si nenek pemintaannya terkabulkan dan akhirnya si nenek tersebut dapat menjual semua tempenya kepada si ibu tersebut.
Posted by Irpan on Jun 7, '07 7:50 AM for everyone Ada sebuah kisah simbolik yang cukup menarik untuk kita simak. Kisah ini adalah kisah tentang seorang raja dan sesendok madu. Alkisah, pada suatu ketika seorang raja ingin menguji kesadaran warganya. Raja memerintahkan agar setiap orang, pada suatu malam yang telah ditetapkan, membawa sesendok madu untuk dituangkan dalam sebuah bejana yang telah disediakan di puncak bukit ditengah kota. Seluruh warga kota pun memahami benar perintah tersebut dan menyatakan kesediaan mereka untuk melaksanakannya.
Tetapi dalam pikiran seorang warga kota (katakanlah si A) terlintas suatu cara untuk mengelak, "Aku akan membawa sesendok penuh, tetapi bukan madu. Aku akan membawa air. Kegelapan malam akan melindungi dari pandangan mata seseorang. Sesendok airpun tidak akan mempengaruhi bejana yang kelak akan diisi madu oleh seluruh warga kota."
Tibalah waktu yang telah ditetapkan. Apa kemudian terjadi? Seluruh bejana ternyata penuh dengan air. Rupanya semua warga kota berpikiran sama dengan si A. Mereka mengharapkan warga kota yang lain membawa madu sambil membebaskan diri dari tanggung jawab.
Kisah simbolik ini dapat terjadi bahkan mungkin telah terjadi, dalam berbagai masyarakat manusia. Dari sini wajar jika agama, khususnya Islam, memberikan petunjuk-petunjuk agar kejadian seperti di atas tidak terjadi: "Katakanlah (hai Muhammad), inilah jalanku. Aku mengajak ke jalan Allah disertai dengan pembuktian yang nyata. Aku bersama orang-orang yang mengikutiku (QS 12:108). Dalam redaksi ayat di atas tercermin bahwa seseorang harus memulai dari dirinya sendiri disertai dengan pembuktian yang nyata, baru kemudian dia melibatkan pengikut-pengikutnya.
"Berperang atau berjuang di jalan Allah tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri, dan bangkitkanlah semangat orang-orang mukmin (pengikut-pengikutmu) (QS 4:84). Perhatikan kata-kata "tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri." Nabi Muhammad saw. pernah bersabda: "Mulailah dari dirimu sendiri, kemudian susulkanlah keluargamu." Setiap orang menurut beliau adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya, ini berarti bahwa setiap orang harus tampil terlebih dahulu. Sikap mental demikianlah yang dapat menjadikan bejana sang raja penuh dengan madu bukan air, apalagi racun.
Pelita Hati - M. Quraish Shihab
Posted by Irpan on May 30, '07 5:00 AM for everyone Ada sebuah cerita yang cukup menarik antara seorang petani dengan seorang kyiai. Ceritanya cukup sederhana namun mungkin sering kita alami dan mudah-mudahan bisa diambil hikmahnya. Alkisah terdapat seorang petani yang sedang mencari seseorang yang bijak. Setelah melewati 3 bukit dan ngarai, sang petani tiba di rumah seorang kyiai. Kyiai kemudian menanyakan maksud kedatangannya. Petani (P) : Saya ingin bertanya, apakah kepiting sawah itu halal atau haram? Kyiai (K) : Sebelum menjawab pertanyaan kamu saya ingin dulu bertanya, apakah kamu punya sawah? P : Punya , Kyiai K : Apakah di sawah yang kamu sedang tanami itu kamu bisa memancing belut? P : Iya, kyiai, bisa K : Apakah kamu punya empang? P : Punya, Kyiai K : Apakah di empangmu dipelihara aneka ragam ikan, sperti mujair, tawes, mas, nila, gurame? P : Iya , Kyiai K : Apakah kamu juga beternak ayam atau bebek seperti petani di sini? P : Iya, Kyiai K : Nah , kalau begitu, makan dulu saja itu semua, janganlah dulu kamu persoalkan kepiting sawah. Ayam, itik, ikan itupun mungkin tak habis kamu makan, jangan kamu susahkan hidupmu dengan persoalan kepiting sawah.
Posted by Irpan on May 14, '07 7:29 AM for everyone
Wa la qad aataina luqmaanal hikmata anisy kurlillaahi wa
may yasykur fa innamaa yasykuru li nafsihii wa ma kafara fa innallaaha
ghaniyyun hamiid. Sesungguhnya Kami telah memberi Luqman hikmah, yaitu,
“Bersyukurlah kepada Allah. Barangsiapa yang bersyukur maka
sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang
ingkar maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.”
Para ulama salaf berikhtilaf mengenai Luqman: apakah dia seorang
nabi atau hamba Allah yang saleh tanpa menerima kenabian? Mengenai hal
ini ada dua pendapat. Mayoritas ulama berpendapat bahwa dia adalah
hamba Allah yang saleh tanpa menerima kenabian. Menurut Ibnu Abbas,
Luqman adalah seorang hamba berkebangsaan Habsyi yang berprofesi
sebagai tukang kayu. Sementara Jabir bin Abdillah mengidentifikasikan
Luqman sebagai orang bertubuh pendek dan berhidung pesek. Sedangkan
Said bin Musayyab mengatakan bahwa Luqman berasal dari kota Sudan,
memiliki kekuatan, dan mendapat hikmah dari Allah, namun dia tidak
menerima kenabian.
Selanjutnya, Ibnu Jarir berpendapat bahwa Luqman adalah seorang
hamba sahaya berbangsa Habsyi yang berprofesi sebagai tukang kayu.
Suatu kali, majikannya berkata kepada Luqman, “Sembelihkan domba ini
untuk kami.” Lalu dia menyembelihnya. Si majikan berkata, “Ambillah
bagian dagingnya yang terbaik.” Lalu Luqman mengambil lidah dan hati
domba. Si Majikan diam selama beberapa saat, lalu berkata, “Sembelihkan
domba yang ini untuk kami.” Lalu dia menyembelihnya. Si majikan
berkata, “Ambillah bagian dagingnya yang terburuk.” Lalu Luqman
mengambil lidah dan hati domba. Kemudian si majikan berkata, “Aku
menyuruhmu mengambil dua bagian daging domba yang terbaik, lalu kamu
melaksanakannya dan akupun menyuruhmu mengeluarkan bagian domba yang
terburuk, lalu kamu mengambil daging yang sama.” Luqman berkata,
“Sesunguhnya tiada perkara yang lebih baik daripada lidah dan hati jika
keduanya baik dan tiada perkara yang lebih buruk daripada lidah dan
hati jika keduanya buruk.”
Suatu kali dia didatangi seseorang, lalu bertanya, “Apa yang dapat
mengantarkanmu kepada kebajikan dalam bertutur?” Luqman menjawab,
Berkata jujur dan tidak mengatakan hal yang tidak penting.”
Dari keterangan di atas jelaslah bahwa Luqman adalah seorang hamba
yang menjadi sahaya, dan kesahayaan menghambatnya untuk menjadi nabi,
sebab para rasul yang diutus itu berasal dari kalangan keluarga
terpandang diantara kaumnya. Karena itu mayoritas ulama salaf memandang
Luqman bukan sebagai nabi.
Luqman pun pernah ditanya ihwal prestasi yang dicapainya. Dia
menjawab. “Hai anak saudaraku, jika engkau menyimak apa yang aku
katakan kepadamu, kamupun akan berprestasi seperti aku.” Lalu Luqman
berkata, “Aku menjaga mengontrol pandanganku, mejaga lidahku, menjaga
kesucian makananku, memelihara kemaluanku, berkata jujur, memenuhi
janjiku, menghormati tamuku, memelihara hubungan baik dengan
tetanggaku, dan meninggalkan perkara yang tidak penting. Itulah yang
membuat diriku seperti yang kamu lihat.”
Firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Kami telah memberi Luqman hikmah,
” yaitu pemahaman, ilmu, tuturan yang baik, dan pemahaman Islam,
walaupun dia bukan nabi dan tidak menerima wahyu. “Yaitu, Bersyukurlah
kepada Allah.” Yakni, Kami menyuruhnya bersyukur kepada Allah Yang
Mahamulia lagi Mahaagung atas karunia yang telah diberikan secara
khusus kepadanya, tidak diberikan kepada manusia sejenis yang hidup
pada masa itu.
Kemudian Allah berfirman, “Barangsiapa yang bersyukur maka
sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri.” Sesungguhnya manfaat
bersyukur itu berpulang kepada orang-orang yang bersyukur itu sendiri,
karena Allah berfirman, ‘Dan barangsiapa yang ingkar maka sesungguhnya
Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.” Dia tidak membutuhkan hamba dan Dia
tidak mendapat mudarat jika seluruh penduduk bumi ingkar, sebab Dia
tidak membutuhkan perkara selain-Nya. Karena itu, tidak ada tuhan
melainkan Allah dan kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya.
| |