Hari kamis 1 Februari, saya pulang sekitar jam 7 malam dari
kantor. Saya naik bis kopaja 19 ke arah blok-m, kurang lebih 15 menit kemudian
saya sudah berada di blok-m. Sesampainya di blok-m saya langsung mencari bis
metromini 69 jurusan blok-m – ciledug yang biasa saya naiki ketika mau pulang
ke rumah. Ternyata bis yang saya cari tidak sampai ke ciledug atau minimal ke
larangan daerah tempat tinggal saya, kebanyakan bis hanya sampai daerah seskoal
atau cipulir. Apa yang ada dipikiran saya waktu itu adalah telah terjadi banjir
di daerah cipulir (karena dari semalam sebelumnya sampai siang tadi terjadi
hujan yang cukup lebat sekali) sehingga kebanyakan bis tidak beroperasi sampai
ciledug. Setelah berjalan sampai ke depan terminal blok-m, akhirnya saya
mendapatkan bis yang sampai ciledug, dan langsung saja saya menaikinya.
Ternyata apa yang saya duga ternyata benar, di daerah swadharma setelah cipulir
terjadi banjir yang cukup dalam sehingga terjadi kemacetan yang cukup parah.
Kemacetan mulai terasa pas di daerah cipulir, rasanya semua kendaraan sampai
ngga bisa berjalan sama sekali. Saya berada cukup lama di dalam bis terjebak
dalam kemacetan akibat banjir, pada saat tersebut hujan kembali turun dan cukup
lebat pula. Akhirnya kendaraan mulai berjalan walaupun tersendat-sendat
termasuk bis yang saya tumpangi dan alhamdulillah bis dapat melewati daerah
banjir tersebut dan ketika saya melihat jam ternyata waktu telah menunjukkan
pukul 9.30 malam
, luar biasa saya terjebak macet selama kurang lebih
2.5 jam. Kemudian, bis berjalan kembali dengan lancar walaupun masih disertai
hujan lebat. Akhirnya bis sudah mencapai daerah kereo, berarti saya sudah harus
siap-siap untuk turun, tetapi apa yang terjadi ketika sampai daerah
gotong-royong lalu-lintas kembali terhenti. Dari tempat saya berada sampai
dengan tempat dimana saya harus turun hanya berjarak beberapa ratus meter saja,
tetapi karena hujan masih cukup lebat dan saya tidak membawa payung, saya
memutuskan untuk tetap berada didalam bis. Ternyata kemacetan disini juga cukup
parah, kendaraan tidak bisa berjalan sama sekali. Karena saya sudah menunggu
cukup lama, saya menelepon rumah untuk minta dijemput, dan pada pukul 10 saya
memutuskan keluar dari bis. Akhirnya babeh dateng menjemput saya dengan membawa
payung dan alhamdulillah saya bisa sampai dirumah dengan selamat pada jam 10.30
malam. Sebuah pengalaman yang jarang terjadi, terjebak dalam kemacetan ditambah
banjir dan hujan lebat selama kurang lebih 3.5 jam dan sampai dirumah sudah
sangat cape dan letih sekali. Dari kejadian yang saya alami ini bisa diambil
beberapa hikmahnya, contohnya yaitu sedia payung sebelum hujan
, halah apa
coba...
Di jalan depan rumah yang
menuju komplek taman asri sudah banjir kurang lebih setinggi pinggang orang dewasa,
dan alhamdulillah rumah saya terletak agak tinggi sehingga tidak kebanjiran.
Melihat apa yang saya alami tersebut dibandingkan dengan orang lain yang
rumahnya terendam akibat banjir tentu tidak ada apa-apanya, karena itu saya
merasa bersyukur kepada Allah SWT, keadaan saya dan keluarga masih lebih baik.
Dan saya berharap bagi keluarga yang terkena musibah banjir diberikan kesabaran
dan ketabahan menghadapi musibah banjir tersebut.